Kabar Bebas

Berita Hukum, Ekonomi, Sosial, Lingkungan dan Kesehatan

MEMBERDAYAKAN GENERASI DI PERGURUAN TINGGI

 

Pendidikan menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi (Iptek). Untuk mewujudkan pendidikan yang baik dibutuhkan komponen-komponen yang baik pula, apabila salah satu komponen rusak maka sistem tidak akan berjalan dengan baik. Peserta didik, tenaga pendidik dan pemerintah adalah tiga komponen tersebut.

Kondisi yang terjadi dalam masyarakat seperti sekarang ini mendorong pola pikir masyarakat condong ke sikap prakmagtisme. Begitu juga yang terjadi pada peserta didik dalam hal ini adalah mahasiswa, yang pernah mempunyai peran penting pada aksi 1998. Sikap prakmagtisme yang terjadi pada mahasiswa terlihat pada pilihan mahasiswa yang memaknai kuliah di perguruan tinggi hanya untuk mecari ijazah untuk melamar pekerjaan. Dari pemaknaan tersebut akhirnya segala cara dimanfaatkan mahasiswa untuk sesegera mungkin lulus dan mendapatkan gelar sarjana. Untuk menyelesaikan tugas akhir atau skripsi yang menjadi salah satu syarat kelulusan ditempuh oleh mahasiswa dengan cara instan yaitu membeli atau memanfaatkan jasa pembuatan skripsi maupun tesis. Padahal di dalam Pasal 25 ayat (2) UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional berbunyi “Lulusan perguruan tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan jiplakan dicabut gelarnya”. Namun pasal tersebut ternyata tidak membatalkan mahasiswa untuk menggunakan jasa pembuatan skripsi.

Dari persoalan yang terjadi tersebut akhirnya menimbulkan kerjasama yang saling menguntungkan, antara mahasiswa dan jasa pembuat skripsi dan tesis. Dengan berkedok konsultan yang bisa kita baca di iklan-iklan media masa, baik lembaga maupun individu yang memberikan jasa pembuat skripsi memberikan pelayanan secara instan, walaupun ada sebagian yang benar-benar memberikan jasa konsultan. Pelayanan instan tersebut  menciptakan sajana-sarjana baik SI maupun S2 yang instan pula.

Lemahnya sistem pembimbingan di perguruan tinggi memberikan peluang besar bisnis pembuatan skripsi dan tesis untuk berkembang. Dosen pembimbing seharusnya dapat dengan jeli dan selektif dalam penyetujuan judul dan proposal yang diajukan mahasiswa. Judul sangat penting dimana dosen pembimbing harus  tahu misalnya judul tersebut telah banyak atau pernah diajukan oleh mahasiswa lain, kedua bahwa judul yang diajukan mengandung isu yang sudah lama atau basi. Dua kreteria tersebut dapat digunakan dosen pembimbing untuk menentukan judul tersebut layak untuk diteliti. Karena misalkan judul yang telah banyak atau pernah di buat oleh mahasiswa lain, sangat rentang bahwa skripsi yang akan dibuat adalah karya sendiri. Judul yang mengandung isu  baru akan memberikan motifasi ataupun menjauhkan dari praktek pembuatan skripsi “ilegal”.

Terkait dengan proposal skripsi ataupun tesis, sangat penting dimana didalamnya terdapat metodologi penelitian, terutama tempat atau obyek penelitian. Hal itu terkait dengan lokasi atau obyek penelitian. Misalnya yang dijadikan lokasi penelitian adalah instansi atau perusahaan “A”, disini perusahaan atau instansi “A” yang dijadikan lokasi dapat menyeleksi proposal pengajuan penelitian dengan kreteria tema atau permasalahan yang di teliti terlalu sering atau sudah pernah. Apabila ini terjadi instansi atau perusahaan “A” tersebut harus dapat menolak pengajuan penelitian tersebut. Ini sangat dimungkinkan akan menekan atau menghindari pembuatan skripsi “ilegal”.

Selain beberapa hal tersebut diatas, kembali lagi pada dosen pembimbing yang secara aktif dan rutin memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang bersangkutan. Bagaimanapun juga jasa pembuatan skripsi dan tesis akan membawa mahasiswa yang oportunistis. Apabila hal itu terjadi pada mahasiswa S2 yang telah bekerja dapat diyakini bahwa kuliah S2 hanya untuk menjadi syarat kenaikan pangkat atau jabatan.   

Skripsi akan menjadi sebuah hasil karya yang patut dibanggakan oleh mahasiswa yang membuatnya apabila dibuat dengan gagasa, ide dan tenaga sendiri. Sebagai karya intelektual skripsi dapat menjadi alih teknologi bagi perkembagan Iptek, dimana dalam skripsi terkandung temuan-temuan baru yang dapat di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sudah jutaan eksemplar skripsi yang telah di buat oleh para mahasiawa baik S1 dan tesis bagi S2 di Indonesia, namun sebagian kecil saja yang dapat disumbangkan dalam perkembangan Iptek. Apabila setiap temuan-temuan dalam skripsi dan tesis di alihkan kepada masyarakat, dipastikan akan terjadi perubahan. Petani dapat mengolah hasil penennya dengan berfariasi, hal itu sangat mungkin terjadi. Berapa ribu mahasiswa yang melakukan penelitian dibidang pertanian, apabila temuanya dapat di implementasikan di bidang terkait tentunya bidang tersebut akan lebih maju.

Peran pemerintah harus dapat menindak dengan tegas terhadap praktek-praktek pembuatan skripsi dan tesis “ilegal”, hal itu dilandasi pada UU Sisdiknas terutama Pasal 3, yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Apabila skripsi dan tesis dikerjakan oleh orang lain tentunya hal itu melanggar Pasal 3 tersebut.

Seasuai dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan yang antara lain, “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat” dan kedua  “Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran”. Sudah sangat jelas bahwa jasa pembuatan skripsi dan tesis akan menjadi virus yang mematikan perkembangan generasi dan melanggar prinsip penyelenggaraan pendidikan.

Kondisi ekonomi, politik dan sosial yang terjadi di Indonesia saat ini adalah tanggungjawab generasi muda. Mahasiswa sebagai generasi muda harus dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan secara global. Untuk mewujudkan hal itu tentunya pematangan di bangku kuliah menjadi suatu keharusan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: